Breaking News

 

Rasa bangga tercurahkan pada salah satu pria muda asal Dusun Mulyorejo, Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi ini. Pasalnya, dirinya berhasil menciptakan sebuah mesin Computer Numerical Control (CNC) kayu yang berfungsi memudahkan para pengrajin kayu. Sebut saja Febri angga setyawan.

Mesin CNC miliknya memiliki kemampuan mengukir secara otomatis hanya dengan sekali sentuh. Artinya, mesin tersebut dikendalikan dengan komputerisasi.

Mahasiswa lulusan Institut Teknologi Nasional Malang Jurusan Mesin tersebut mampu memadukan mesin dengan program komputer. Mesin tersebut terlihat seperti mesin pabrikan asal China yang dijual di pasaran.

Lewat mesin buatannya, limbah kayu yang semula tak terpakai mampu disulap menjadi karya seni bernilai jual ekonomis. Jenis limbah kayu yang digunakan mulai dari Kayu Sono, Mahoni, hingga Kayu Jati.

 

Febri menciptakan desain yang bervariatif, mulai dari Lafadz Allah, tulisan aksara jawa, lambang Club Bola, hingga lambang negara Indonesia (Garuda Pancasila). Customer gallerynya pun diberikan kebebasan dalam mendesain motif yang akan diukir.

Untuk komponen mesin miliknya, Febri membelinya secara online. Sedangkan, untuk softwarenya, ia membuat sendiri secara otodidak. Hanya dibutuhkan waktu selama 3 bulan untuk merakit mesin hingga proses coding, dan siap digunakan.

“Berawal ketika saat kuliah di Malang, saya itu basicnya adalah teknik mesin. Akan tetapi, saya mencoba memprogram software. Belajar sedikit-sedikit secara otodidak. Oleh karena itu, saya akhirnya berhasil membuat software dari mesin CNC Ukir Kayu ini. Namun, untuk komponen luarannya saya beli jadi,” ujar Febri.

Febri juga menambahkan, bahwa sebetulnya untuk pemograman semua orang bisa hanya tinggal kemuan belajarnya saja. Apabila dikalkulasikan rentang waktu pembuatan mesinnya sekitar tiga bulan. Selain mengolah limbah kayu, mesin CNC miliknya mampu mengukir bahan dari besi dan aluminium.

 

Di sisi lain, mesin ciptaannya ternyata mampu menjadi jawaban para pelaku usaha kerajinan kayu dalam mempercepat waktu pengerjaan. Dengan begitu, banyak pembeli yang berminat meminta Febri untuk membuatkan mesin tersebut. Hal ini terbukti dengan banyaknya pesanan dari Banyuwangi hingga Provinsi Jawa Tengah.

Febri mematok harga 1 mesinnya sekitar 30 juta hingga 90 juta rupiah bergantung spesifikasi dan ukurannya.

Melihat potensi dan kemampuan yang luar biasa dari anak bangsa ini, patut menjadi perhatian dari Pemerintah Daerah dan masyarakat. Pasalnya, apabila didukung dan dikembangkan, Indonesia tak perlu lagi mengimpor mesin dari negara lain. Akan tetapi cukup memanfaatkan KARYA ANAK BANGSA SENDIRI!. Kamis, (01/07/21).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share Article: